Tampilkan postingan dengan label Airway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Airway. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2009

BCLS-BTLS For Nurse, PRO EMERGENCY - PPNI Kabupaten Bogor - PERKI



Pro Emergency bekerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Bogor dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) akan menyelenggarakan pelatihan BASIC CARDIAC LIFE SUPPORT dan BASIC TRAUMA LIFE SUPPORT FOR NURSE (BCLS & BTLS for Nurse) untuk perawat rumah sakit, Puskesmas, Klinik Umum, Klinik perusahaan, Perawat Ambulans Gawat Darurat dan Mahasiswa keperawatan.

Pelatihan tersebut diselenggarakan di PUSDIKLAT DHARMAIS BOGOR yang beralamat di Jl. Dharmais, Ciluer, Kedunghalang, Bogor. Pelatihannya sendiri menurut rencana akan dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2009 (BCLS) dan pada tanggal 22-24 Oktober 2009 (BTLS).

Pelatihan BCLS & BTLS for Nurse adalah paket pelatihan yang ditujukan agar peserta pelatihan mampu melakukan penanggulangan kegawatdaruratan Trauma dan Jantung/kardiovaskuler. Selain itu pelatihan ini dimaksudkan agar perawat dan dokter bisa bekerjasama dengan baik dalam melakukan penanggulangan kegawatdaruratan trauma dan jantung. Jika perawat mendapatkan pelatihan BCLS & BTLS for Nurse maka dokter harus pula mendapatkan pelatihan Advance Cardiac Life Support dan Advance Trauma Life Support (ACLS-ATLS).

Informasi mengenai pelatihan diatas bisa menghubungi Toto Suharto (081213145000, 021-70249324).

Wassalam,

ORGANIZING COMMITTEE
Basic Cardiac Life Support - Basic Trauma Life Support For Nurse
(BCLS-BTLS for Nurse)

________________________________________________________
========================================================
End Page

Kamis, 05 Februari 2009

JAW THRUST : Penanganan Airway Pada Penderita Trauma

Penanganan sumbatan airway karena pangkal lidah pada penderita dengan kemungkinan patah tulang leher dapat dilakukan secara manual dengan tindakan chin lift dan jaw thrust.

Tindakan jaw thrust (mendorong rahang) dilakukan dengan cara memegang sudut rahang bawah (angulus mandibulae) dan mendorong rahang bawah kedepan. keuntungan melakukan tindakan ini adalah dapat sekaligus melakukan fiksasi kepala agar selalu pada posisi segaris (in line), selain itu bila cara ini dilakukan sambil baging atau memegang bag-valve dapat dicapai kerapatan yang baik dan ventilasi yang adekuat.






CHIN LIFT : Penanganan Airway pada penderita trauma

Membebaskan jalan napas pada penderita trauma yang dicurigai mengalami patah tulang leher harus selalu menjaga posisi tubuh penderita agar selalu segaris (in line). Pada tindakan membuka jalan napas secara manual, tindakan meng-ekstensikan kepala harus dihindari. Tindakan yang dapat dilakukan adalan dengan melakukan chin lift atau jaw trust.

Tindakan chin lift dilakukan dengan cara jari jemari salah satu tangan diletakan dibawah rahang, kemudian secara hati-hati diangkat keatas arah depan. Ibu jari tangan yang sama, dengan ringan menekan bibir bawah untuk membuka mulut. Ibu jari dapat juga diletakan dibelakang gigi seri bawah dan secara bersamaan mengangkat dagu dengan hati-hati.

Manuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher, terutama pada penderita trauma dengan kemungkinan mengalami patah tulang leher yang ditandai dengan :
  1. Adanya jejas atau perlukaan diatas klavikula
  2. Adanya trauma kepala disertai penurunan kesadaran
  3. Multiple trauma
  4. Biomekanik mendukung




TEKNIK-TEKNIK MEMPERTAHANKAN AIRWAY




Bila penderita mengalami penurunan kesadaran maka pangkal lidah kemungkinan akan jatuh kebelakang dan menyumbat hipofaring. Sumbatan seperti ini dapat segera diatasi dengan melakukan hiperekstensi (ditengadahkan), tetapi tindakan ini tidak diperbolehkan pada penderita trauma yang dicurigai mengelami fraktur servikal (patah tulang leher). pada penderita trauma dengan kecurigaan patah tulang leher maka dapat diatasi dengan melakukan pengangkatan dagu (Chin lift maneuver) atau dengan mendorong rahang bawah kearah depan (jaw thrust maneuver). Airway (jalan napas selanjutnya dapat dipertahankan dengan oropharyngeal airway (atau di rumah sakit terkenan dengan gudel) atau dengan menggunakan nasopharyngeal airway.

Tindakan-tindakan yang digunakan untuk membuka airway dapat menyebabkan atau memperburuk cedera servikal dan spinal. oleh karena itu selama melakukan tindakan harus selalu menjaga kestabilan leher pada posisi segaris (In line immobilization) dengan fikasasi kepala atau menggunakan Neck Collar (Bidai Leher).

Kamis, 29 Januari 2009

KENAPA AIRWAY PRIORITAS PERTAMA ?



Pembunuh yang tercepat pada penderita trauma adalah ketidakmampuan untuk mengantarkan darah yang teroksigenisasi ke otak dan struktur vital lainnya. Pencegahan hipoksemia memerlukan airway yang terlindungi, terbuka dan ventilasi yang cukup merupakan prioritas yang harus didahulukan dibanding yang lainnya. Bagaimana mungkin dapat memenuhi kebutuhan oksigen apabila jalan napasnya tersumbat, apalagi jika mengalami sumbatan total. Semua penderita trauma memerlukan oksigen. OLeh karena itu setiap gangguan pada airway harus segera ditangani.

Gangguan pada airway dapat timbul secara mendadak atau perlahan, dapat sebagian atau total. Penderita dengan penurunan kesadaran mempunyai resiko tinggi terhadap sumbatan airway dan sering kali memerlukan pemasangan airway definitif. Pada penderita trauma terutama yang mengalami cedera kepala, menjaga oksigenisasi dan mencegah hiperkarbia merupakan hal yang utama.

Petugas harus dapat memperkirakan kemungkinan timbulnya muntah pada semua penderita yang cedera dan sudah siap untuk kemungkinan itu. Adanya isi lambung pada orofaring menandakan adanya resiko aspirasi maka harus segera dilakukan penghisapan (suctioning). Ada juga beberapa keadaan yang memerlukan perhatian ekstra.

TRAUMA MAKSILOFASIAL
Trauma pada daerah wajah membutuhkan pengelolaan airway yang agresif. Frajtur pada wajah memungkinkan menyebabkan sekresi, gigi tercabut pembengkakan, dan fraktur pada rahang bawah terutama fraktur korpus bilateral dapat menyebabkan hilangnya tumpuan nurmal dan sumbatan jalan napas jika penderita berbaring.

TRAUMA LEHER
Luka tembus pada leher dapat menyebabkan perdarahan disaluran napas. Trauma tumpul pada leher dapat menyebabkan perubahan posisi trakhea yang mengakibatkan sumbatan.

TRAUMA LARINGEAL
Meskipun fraktur laring jarang terjadi, tetapi hal ini dapat mengakibatkan sumbatan airway akut. Fraktur laring ditandai dengan trias :
  1. Suara Parau
  2. Emfisema Subkutan
  3. Kreapitasi
Apabila airway penderita tersumbat total atau adanya distress pernapasan maka usaha untuk pemasangan alat airway definitif (intubasi) harus segera dilakukan.