Tampilkan postingan dengan label Emergency Care. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emergency Care. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juli 2010

PPNI Kabupaten Asahan menyelenggarakan BTLS For Nurse

Tanggal 4 Juli lalu, Tim BTLS for Nurse sampai di Kabupaten Asahan Propinsi Sumatera Utara. Kami di undang oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Asahan yang di komandoi oleh Bapak Epi Irwansyah Pane.
Kabupaten Asahan beribukota di Kisaran, letaknya sebelah utara Medan. Perjalanan dari Medan ke Kisaran kurang lebih 4 jam dengan menggunakan kendaraan charter. PPNI Kabupaten Asahan mengundang  Tim Pro Emergency untuk menyelenggarakan pelatihan Basic Trauma Life Support For Nurse (BTLS For Nurse) untuk perawat di kabupaten Asahan dan sekitarnya.
Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 5-7 Juli 2010 yang diikuti oleh 31 perawat dan dosen yang berasal dari RSUD Kisaran, RSUD Tanjung Balai, RS Ibu Kartini, Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab. Asahan, Dinas Kesehatan Kab. Batubara, AKPER Yagma, AKPER PEMKO Tanjung Balai, Dinas Kesehatan Kab. Simalungun dan lain-lain.
Pelatihan itu sendiri dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab. Asahan dan Ketua PPNI Kab. Asahan dengan seremonial sederhana. Pada kesempatan itu Kepala Dinas dan Ketua PPNI berkomitmen untuk selalu berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan (kompetensi) perawat di Kab. Asahan dan sekitarnya.
Meski mayoritas peserta adalah perawat senior ternyata peserta sangat antusias dalam mengikuti materi teori dan praktek. Apalagi pada saat melakukan simulasi dilapangan.
Pelatihan BTLS For Nurse ditujukan kepada perawat agar mampu menangani penderita gawat darurat trauma baik di Unit Gawat darurat, Puskesmas, Klinik maupun dilokasi kejadian (TKP). Jadi dengan kata lain BTLS for nurse dapat di aplikasikan baik dirumah sakit maupun pra rumah sakit.
Pelatihan BTLS for Nurse terdiri dari materi diantaranya sebagai berikut : Integrated Medical Emergency Response System, Airway – breathing management, Circulation And Shock, Cardio Pulmonary Rescutitation, Initial Assessment and Management, Extrication-Stabilization-Lifting-moving-Tranportation, Mechanism of injury, head trauma, thorax trauma, Abdomen Trauma, Musculo Sceletal Trauma, thermal Trauma, Disaster, dan Triage.
Pelatihan terdiri dari 40% teori dan 60% praktek dimana setelah mengikuti kuliah teori peserta harus mengikuti Skill Station, yang terdiri dari 4 Station yaitu Airway-Breathing Management, Initial Assessment, CPR on Scene and Emergency Room, Extrication-Stabilization-Lifting-Moving.
Pelatihan yang pertama kali dilaksanakan di Asahan dinilai sukses dan memuaskan. Hal ini selain bisa dilihat dari hasil Qustionare yang di isi oleh peserta pelatihan yang semuanya menyatakan puas dan merasa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang bersangkutan.
Sehubungan dengan suksesnya penyelanggaraan pelatihan tersebut, rencananya PPNI Kab. Asahan akan menyelenggarakan pelatihan ini secara periodik dan melibatkan komunitas perawat yang lebih luas lagi, baik dari Kab. Asahan maupun dari Kabupaten sekitarnya.
Bagi yang berminat untuk mengikuti pelatihan ini dapat menghubungi sekretariat PPNI Kab. Asahan sebagai panitia lokal yang mengorganisir pelaksanaan pelatihan ini.

Selasa, 21 Juli 2009

BCLS-BTLS For Nurse, PRO EMERGENCY - PPNI Kabupaten Bogor - PERKI



Pro Emergency bekerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Bogor dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) akan menyelenggarakan pelatihan BASIC CARDIAC LIFE SUPPORT dan BASIC TRAUMA LIFE SUPPORT FOR NURSE (BCLS & BTLS for Nurse) untuk perawat rumah sakit, Puskesmas, Klinik Umum, Klinik perusahaan, Perawat Ambulans Gawat Darurat dan Mahasiswa keperawatan.

Pelatihan tersebut diselenggarakan di PUSDIKLAT DHARMAIS BOGOR yang beralamat di Jl. Dharmais, Ciluer, Kedunghalang, Bogor. Pelatihannya sendiri menurut rencana akan dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2009 (BCLS) dan pada tanggal 22-24 Oktober 2009 (BTLS).

Pelatihan BCLS & BTLS for Nurse adalah paket pelatihan yang ditujukan agar peserta pelatihan mampu melakukan penanggulangan kegawatdaruratan Trauma dan Jantung/kardiovaskuler. Selain itu pelatihan ini dimaksudkan agar perawat dan dokter bisa bekerjasama dengan baik dalam melakukan penanggulangan kegawatdaruratan trauma dan jantung. Jika perawat mendapatkan pelatihan BCLS & BTLS for Nurse maka dokter harus pula mendapatkan pelatihan Advance Cardiac Life Support dan Advance Trauma Life Support (ACLS-ATLS).

Informasi mengenai pelatihan diatas bisa menghubungi Toto Suharto (081213145000, 021-70249324).

Wassalam,

ORGANIZING COMMITTEE
Basic Cardiac Life Support - Basic Trauma Life Support For Nurse
(BCLS-BTLS for Nurse)

________________________________________________________
========================================================
End Page

Senin, 17 November 2008

Trimodal Death Distribution

Kematian karena trauma terjadi pada salah satu waktu dari tiga periode waktu. Puncak pertama dari kematian karena trauma terjadi beberapa detik atau menit setelah kejadian. Pada waktu yang dini ini kematian umumnya karena laserasi otak, batang otak, spinal cord level yang tinggi, jantung, aorta, dan pembuluh dara besar lainnya. Hanya sedikit dari kelompok penderita ini dapat diselamatkan karena beratnya cedera. Keberhasilan penanggulangan kelompok ini hanya dapat berhasil didaerah urban (perkotaan) tertentu dimana terdapat sarana pelayanan pra rumah sakit (ambulans gawat darurat) yang cepat dan baik. Hanya prevensi yang dapat mengurangi angka kematian kelompok ini.

Kematian puncak kedua terjadi beberapa menit sampai beberapa jam setelah kejadian trauma. Kursus Advance Trauma Life Support (ATLS) / Basic Trauma Life Support (BTLS ) terutama memfokuskan pada puncak kedua ini. Kematian pada puncak kedua ini biasanya karena perdarahan sub dural dan epidural, hemopneumothoraks, ruptur limpa, laserasi hati, fraktur pelvis, dan atau cedera multiple lainnya dengan perdarahan yang berat. penanggulangan pada jam pertama setelah kejadian mencerminkan kebutuhan perlunya penilaian dan resusitasi yang cepat yang merupakan prinsip dasar dari ATLS dan BTLS.

Kematian puncak ketiga, terjadi setelah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah kejadian. kebanyakan terjadi karena sepsis dan gagal sistem organ multiple. Kualitas penanggulangan pada setiap periode, berdampak pada periode ini. jadi orang yang pertama dan setiap individu yang terlibat dalam penanggulangan kasus gawat darurat/trauma akan mempunyai dampak langsung pada hasil akhir jangka panjang.

Sumber : ATLS 2004

TRAUMA : Angka, Biaya dan Upaya

Di Amerika Serikat, jumlah dollar yang dikeluarkan setiap tahun yang berkaitan dengan trauma melampaui $ 400 milyar dollar. Biaya ini meliputi hilangnya pemasukan, pengeluaran medis, biaya administrasi asuransi, kerugian material, kerugian yang dikeluarkan majikan/perusahaan, dan biaya tidak langsung yang berkaitan dengan cedera karena pekerjaan. Dari dana sebesar itu hanya sedikit saja yang disisihkan untuk melakukan riset hal-hal yang berkaitan dengan trauma. Padahal kematian tragis akibat trauma sebagian besar terjadi pada usia muda yang masih produktif. Salah satu penyebab kematian yang paling besar adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam penggunaan sabuk pengaman dan helmet.

Pada tahun 1990, cedera akibat trauma menyebabkan 3.2 juta kematian dan 312 juta penderita diseluruh dunia yang memerlukan perhatian. Pada tahun 2000, kematian mencapai 3.8 juta dan pada tahun 2020 cedera/trauma akan merupakan penyebab kematian tertinggi kedua atau ketiga untuk semua kelompok umur. Keadaan ini merupakan penyebab kematian pada setiap manusia umur 1-44 tahun dinegara maju dan berkembang, dan akan menjadi masalah kesehatan setelah penyakit menular dapat dihapus.

Di 39 negara yang mempunyai data lengkap, didapat bahwa 70% kematian dan cedera disebabkan oleh kecelakaan lalulintas. Diantara 10 negara tersebut, KLL merupakan penyebab kematian dan cedera nomor 2 dan hanya di finlandia yang merupakan nomor 3. Mekanisme penyebab fatalitas berbeda dari negara ke negara. Diselandia baru KLL merupakan penyebab kematian tertinggi, 2.5 kali lebih tinggi dibanding dengan kepulauan Bahamas dan kerajaan inggris. Jatuh dari ketinggian, tenggelam, dan luka bakar merupakan penyebab kematian tersering berikutnya.

Kematian karena luka tembak merupakan masalah di US, Norwegia, dan Perancis. Di Amerika Serikat kematian karena luka tembak mendekati KLL untuk kelompok umur 15-24 tahun yaitu 13.7 dibanding 16.2 untuk setiap 100.000 penduduk. penyebab utama di Amerika adalah kebebasan kepemilikan senjata api.

Kecacatan Akibat cedera/trauma di Amerika Serikat dan Portugal mencapai 3 : 1 dibanding dengan kematian. Di Amerika Serikat tiap tahun terdapat 60 juta cedera/trauma yang menyebabkan adanya 36.8 juta kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Ini merupakan 40% dari semua kunjungan ke UGD. 54% daripadanya adalah anak-anak berumur antara 5-14 tahun. Untuk setiap kematian ada 19 penderita dirawat, 233 kunjungan ke UGD dan 450 kunjungan ke dokter yang berkaitan dengan trauma.

Data tersebut diatas menunjukan bahwa penanggulangan cedera akibat trauma mengkonsumsi secara signifikan sarana kesehatan dari setiap negara. Cedera/trauma merupakan suatu penyakit. Ada Host-nya (penderita) dan ada Vektor-nya (kendaraan, senjata api, mesin dll). Banyak usaha yang telah dilakukanuntuk menghapus penyakit menular, penyakit jantung dan kanker. Tetapi hanya sedikit perhatian masalah penanggulangan cedera/trauma. Padahal sebagian besar yang mengalami trauma adalah generasi muda yang masih produktif.

Oleh karena itu perlu adanya riset dan prevensi untuk masalah trauma dan perlu adanya penyedian sarana-prasarana yang memadai yang meliputi Ambulans Gawat Darurat dan Rumah Sakit Rujukan. Selain itu perlu adanya suatu sistem yang terintegrasi antara fase pra rumah sakit-rumah sakit-paska rumah sakit.

Salah satu upaya yang paling murah dilakukan adalah memberikan training penanggulangan penderita trauma kepada masyarakat sebagai penolong pertama (first aider) dan profesional kesehatan yang meliputi Dokter dan perawat.